Pertandingan antara Persiba Balikpapan melawan PSS Sleman dalam lanjutan Pegadaian Championship 2025/2026 mendadak menjadi sorotan publik. Bukan karena hasil akhir pertandingan, melainkan karena viralnya potongan tayangan siaran yang memperlihatkan ruang Video Assistant Referee (VAR) tampak kosong saat proses review berlangsung.
Laga yang digelar di Stadion Batakan, Balikpapan, Minggu (26/4/2026), berakhir dengan skor imbang 1-1. Namun perhatian netizen justru tertuju pada momen saat wasit melakukan pengecekan terhadap insiden pelanggaran keras yang melibatkan pemain Persiba, Rical Vieri, terhadap penyerang PSS Sleman, Frederic Injai.
Dalam tayangan televisi, ruang VAR terlihat kosong tanpa operator maupun petugas yang seharusnya berada di dalam ruangan tersebut. Potongan video itu kemudian menyebar luas di media sosial dan memunculkan berbagai spekulasi dari publik terkait integritas pertandingan serta efektivitas penggunaan teknologi VAR di kompetisi sepak bola Indonesia.
Banyak suporter mempertanyakan bagaimana keputusan wasit bisa tetap mengacu pada VAR jika ruang kontrol terlihat kosong. Tidak sedikit pula yang menganggap sistem tersebut mengalami gangguan serius.
Menanggapi polemik yang semakin ramai, operator kompetisi I.League langsung memberikan klarifikasi resmi. Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menegaskan bahwa operasional VAR pada pertandingan Persiba vs PSS berjalan normal dan sesuai prosedur yang berlaku.
“I.League memastikan bahwa seluruh proses VAR berjalan sesuai standar dan protokol yang berlaku. Tidak ada kendala dalam operasional maupun pengambilan keputusan di lapangan,” ujar Ferry Paulus dalam keterangan resminya.
Menurut penjelasan I.League, visual ruang VAR yang terlihat kosong bukan berarti sistem tidak berjalan. Masalah terjadi pada sistem tayangan siaran (broadcast visual), bukan pada operasional VAR itu sendiri.
Artinya, petugas VAR tetap menjalankan tugasnya seperti biasa, hanya saja tampilan yang muncul di layar televisi tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di ruang Video Operation Room (VOR). Gangguan teknis pada sistem penyiaran real-time inilah yang menyebabkan publik salah memahami situasi di lapangan.
Dalam insiden yang sedang ditinjau tersebut, wasit tetap melakukan prosedur sesuai regulasi sebelum akhirnya mengeluarkan kartu merah kepada pemain Persiba. I.League menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil melalui proses yang sah dan tidak ada pelanggaran prosedur.
Klarifikasi ini penting karena isu VAR sangat sensitif dalam sepak bola modern. Kepercayaan publik terhadap teknologi bantuan wasit menjadi faktor besar dalam menjaga kredibilitas kompetisi.
Apalagi dalam beberapa musim terakhir, penggunaan VAR di Indonesia kerap menjadi bahan perdebatan, baik di Liga 1 maupun Championship. Karena itu, viralnya tayangan ruang VAR kosong langsung memicu reaksi besar dari netizen.
Ferry Paulus juga menegaskan bahwa integritas kompetisi tetap terjaga dan seluruh perangkat pertandingan bekerja sesuai standar internasional. Ia meminta publik untuk tidak langsung menarik kesimpulan hanya dari potongan video yang beredar di media sosial.
Kasus Persiba vs PSS ini menjadi pengingat penting bahwa tayangan visual tidak selalu menggambarkan keseluruhan situasi sebenarnya. Transparansi operator kompetisi menjadi kunci agar kepercayaan suporter tetap terjaga.
Dengan penjelasan resmi dari I.League, polemik ruang VAR kosong diharapkan dapat mereda. Fokus kini kembali kepada jalannya kompetisi dan evaluasi agar sistem siaran maupun teknologi pertandingan semakin baik ke depannya.
Sudah lebih dari 1 juta penggemar bola memakai aplikasi ini!
shop