Menu

Korea Selatan Boikot Wartawan di Piala Dunia 2026

labelWorld Cup calendar_month Rabu, 17 Juni 2026
Korea Selatan Boikot Wartawan di Piala Dunia 2026.webp

Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia 2026, Korea Selatan justru menjadi sorotan bukan karena aksi di lapangan, melainkan akibat konflik serius dengan media dari negaranya sendiri.

Keputusan para pemain Taegeuk Warriors untuk memboikot sebagian aktivitas media memicu pertanyaan besar di kalangan penggemar sepak bola dunia: apa sebenarnya yang terjadi?

Di balik keputusan tersebut, terdapat sosok kapten tim yang selama ini menjadi kebanggaan Korea Selatan, yakni Son Heung-min.



Kronologi: Berawal dari Mikrofon yang Tak Dimatikan

Kontroversi ini bermula saat sesi latihan terbuka Korea Selatan di Guadalajara, Meksiko.

Beberapa wartawan Korea Selatan yang hadir diduga tidak menyadari bahwa mikrofon mereka masih aktif. Percakapan pribadi mereka pun terekam dan tersebar luas.

Dalam rekaman tersebut, terdengar komentar bernada mengejek terhadap Son Heung-min.

Bukan soal performa di lapangan, melainkan mengenai status wajib militernya.

Menurut laporan Reuters, para jurnalis tersebut melontarkan candaan sinis yang mempertanyakan kepemimpinan Son sembari menyinggung fakta bahwa ia tidak menjalani wajib militer penuh seperti mayoritas pria Korea Selatan.



Mengapa Komentar Itu Sangat Sensitif?

Di Korea Selatan, wajib militer bukan sekadar kewajiban hukum.

Seluruh pria sehat diwajibkan menjalani dinas militer sekitar 18 hingga 21 bulan.

Namun terdapat pengecualian khusus bagi atlet yang mengharumkan nama bangsa melalui prestasi internasional tertentu.

Son Heung-min memperoleh pembebasan dari dinas militer penuh setelah membantu Korea Selatan meraih medali emas pada Asian Games 2018.

Meski demikian, Son tetap menjalani pelatihan dasar militer selama tiga minggu pada tahun 2020.

Karena itu, komentar wartawan tersebut dianggap tidak hanya keliru secara fakta, tetapi juga menyentuh isu yang sangat sensitif di masyarakat Korea Selatan.



Son Heung-min Memilih Diam

Yang menarik, Son tidak membalas secara terbuka.

Kapten Korea Selatan itu memilih menjaga ketenangan dan tetap fokus pada persiapan tim.

Namun rekan-rekan setimnya mengambil sikap berbeda.

Sebagai bentuk solidaritas terhadap Son, para pemain Korea Selatan memutuskan untuk tidak melayani wawancara di luar kewajiban resmi FIFA.

Keputusan tersebut membuat hubungan antara tim nasional dan media Korea Selatan memanas.



KFA Turun Tangan

Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) akhirnya turun tangan.

KFA menyampaikan penyesalan atas tindakan beberapa jurnalis yang dianggap tidak profesional.

Mereka juga menegaskan bahwa perlindungan terhadap pemain menjadi prioritas utama selama turnamen berlangsung.

Reuters melaporkan bahwa KFA meminta media untuk bertindak lebih bertanggung jawab demi menjaga suasana kondusif di dalam skuad.

Beberapa media Korea bahkan melaporkan bahwa pimpinan delegasi pers telah menyampaikan permintaan maaf langsung kepada Son Heung-min.

Namun hingga kini, belum semua pemain bersedia kembali membuka akses komunikasi seperti sebelumnya.



Son Heung-min: Simbol Kebanggaan Korea Selatan

Insiden ini justru menunjukkan betapa besar penghormatan rekan-rekan setim terhadap Son.

Bagi Korea Selatan, Son bukan hanya pemain bintang.

Ia adalah simbol.

Pencetak sejarah Asia di sepak bola Eropa, mantan ikon Tottenham Hotspur, dan pemimpin generasi emas Korea Selatan.

Bahkan sebelum Piala Dunia dimulai, Son disebut menjalani "last dance" bersama negaranya di turnamen terbesar dunia.

Fokus utamanya bukan kontroversi.

Melainkan membawa Korea Selatan melangkah sejauh mungkin.



Apakah Ini Boikot Total terhadap Media?

Jawabannya: tidak.

Banyak pemberitaan awal menyebut Korea Selatan melakukan "boikot pers".

Namun faktanya, boikot tersebut bersifat terbatas.

Timnas Korea Selatan tetap menjalankan kewajiban media resmi yang diwajibkan FIFA.

Yang mereka hentikan hanyalah aktivitas tambahan bersama media Korea Selatan di luar agenda resmi.

Artinya, ini lebih tepat disebut sebagai aksi protes terhadap perilaku sebagian jurnalis, bukan penolakan total terhadap kebebasan pers.



Dampak terhadap Performa Tim

Sejauh ini, kontroversi tersebut belum mengganggu performa Korea Selatan di lapangan.

Taegeuk Warriors justru tampil solid dan menunjukkan kekompakan tinggi.

Sebagian pengamat menilai insiden ini malah mempererat hubungan antarpemain karena mereka bersatu mendukung sang kapten.

Namun tekanan psikologis tetap menjadi tantangan tersendiri.

Sorotan publik Korea Selatan kini bukan hanya tertuju pada hasil pertandingan, tetapi juga bagaimana Son menghadapi badai kritik tersebut.



Apa Pelajaran dari Kasus Ini?

Kasus Korea Selatan menjadi pengingat bahwa:

  • Profesionalisme media sangat penting dalam turnamen besar.
  • Tokoh publik tetap berhak mendapatkan penghormatan.
  • Solidaritas dalam tim dapat menjadi kekuatan besar.
  • Isu budaya seperti wajib militer tidak boleh dijadikan bahan candaan sembarangan.

Di tengah euforia Piala Dunia 2026, drama di luar lapangan ini menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar soal menang atau kalah.

Ada harga diri, penghormatan, dan rasa persaudaraan yang dipertaruhkan.

Dan Son Heung-min, sekali lagi, memilih menjawab semuanya dengan ketenangan.