Menu

Atletico Madrid Merasa Dirugikan vs Arsenal, Kontroversi VAR Semifinal Liga Champions 2026 Memanas

labelChampions League calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
Atletico Madrid Merasa Dirugikan vs Arsenal.webp

Laga semifinal leg kedua Liga Champions 2026 antara Atletico Madrid melawan Arsenal masih menjadi perbincangan panas di dunia sepak bola Eropa. Bukan hanya karena hasil akhir yang mengantar Arsenal ke final, tetapi juga sederet keputusan wasit dan VAR yang dianggap merugikan kubu Atletico Madrid.

Pertandingan yang berlangsung di Emirates Stadium berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Arsenal. Gol tunggal Bukayo Saka memastikan The Gunners lolos ke final Liga Champions 2026 dengan agregat tipis. Namun setelah peluit akhir dibunyikan, perhatian publik justru tertuju pada sejumlah insiden kontroversial di kotak penalti Arsenal.


Atletico Madrid Soroti Momen Penalti yang Tidak Diberikan

Salah satu insiden yang paling diperdebatkan terjadi ketika Antoine Griezmann terjatuh di area penalti setelah kontak dengan Riccardo Calafiori. Banyak pihak menilai bek Arsenal tersebut melakukan pelanggaran yang seharusnya menghasilkan penalti untuk Atletico Madrid. Namun wasit Daniel Siebert lebih dulu menghentikan permainan karena pelanggaran lain yang dianggap terjadi sebelumnya.

Keputusan itu langsung memancing protes dari pemain dan staf Atletico Madrid. Bahkan putra Diego Simeone, Giuliano Simeone, secara terbuka mengungkapkan kekesalannya di media sosial karena merasa timnya tidak mendapat perlakuan adil dari perangkat pertandingan.

Dalam laporan media Inggris, Diego Simeone memang mencoba menahan diri agar tidak terlalu menyalahkan wasit. Namun pelatih asal Argentina tersebut mengakui ada beberapa keputusan yang membuat timnya frustrasi sepanjang dua leg semifinal.


David Beckham Ikut Angkat Bicara

Legenda sepak bola Inggris, David Beckham, juga ikut memberikan komentar terhadap kontroversi tersebut. Dalam sebuah tayangan analisis pertandingan, Beckham menilai Atletico Madrid seharusnya mendapat penalti pada salah satu insiden di kotak terlarang Arsenal.

Menurut Beckham, pelanggaran awal yang ditiup wasit justru sangat minim kontak, sementara momen setelahnya lebih layak dianggap sebagai pelanggaran penalti.

Komentar Beckham semakin memperbesar perdebatan publik karena banyak penggemar menilai keputusan wasit terlalu cepat menghentikan permainan sebelum VAR bisa meninjau kemungkinan penalti untuk Atletico Madrid.


Kontroversi VAR Sudah Terjadi Sejak Leg Pertama

Drama wasit sebenarnya sudah muncul sejak leg pertama di markas Atletico Madrid. Saat itu Arsenal sempat mendapatkan penalti kedua setelah Eberechi Eze dijatuhkan David Hancko di kotak penalti. Namun setelah tinjauan VAR, wasit Danny Makkelie membatalkan keputusan tersebut.

Keputusan itu memicu kemarahan manajer Arsenal, Mikel Arteta, yang menganggap timnya dirugikan. Arteta bahkan menyebut keputusan VAR mengubah jalannya pertandingan.

UEFA kemudian memberikan klarifikasi resmi dan menegaskan bahwa pembatalan penalti Arsenal pada leg pertama sudah sesuai aturan karena dianggap tidak ada pelanggaran yang cukup kuat.

Situasi tersebut membuat kedua kubu sama-sama merasa pernah dirugikan selama semifinal berlangsung. Arsenal kecewa pada leg pertama, sementara Atletico Madrid merasa keputusan di leg kedua lebih merugikan mereka.


Fans dan Pengamat Terbelah

Di media sosial, perdebatan berlangsung sangat panas. Sebagian fans menilai Atletico Madrid memang layak mendapatkan penalti, sementara kubu lain merasa Arsenal tetap pantas lolos karena tampil lebih efektif sepanjang dua leg.

Beberapa mantan wasit Eropa bahkan ikut memberikan analisis berbeda terkait keputusan-keputusan VAR di semifinal ini. Ada yang mendukung keputusan wasit, tetapi tidak sedikit pula yang menganggap VAR gagal memberikan konsistensi dalam pertandingan sebesar semifinal Liga Champions.

Terlepas dari kontroversi tersebut, Arsenal kini resmi melangkah ke final Liga Champions 2026 dan akan menghadapi Paris Saint-Germain di partai puncak. Sementara Atletico Madrid harus kembali menunda mimpi mereka untuk meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub.