Menu

Tottenham Terancam Degradasi, Ini Skenario Terburuk Spurs

labelPremier League calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
Tottenham Terancam Degradasi, Ini Skenario Terburuk Spurs.webp

Tottenham Hotspur tengah menghadapi salah satu situasi paling buruk dalam sejarah modern klub. Klub yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai bagian dari “Big Six” Premier League kini justru berada di ambang degradasi menuju Championship.

Dengan hanya dua pertandingan tersisa di musim Premier League 2025/2026, Spurs saat ini berada di posisi ke-17 klasemen sementara dengan 38 poin. Mereka hanya unggul dua angka dari West Ham United yang berada tepat di bawah zona aman.

Situasi semakin menegangkan setelah Tottenham gagal meraih kemenangan penting saat bermain imbang 1-1 melawan Leeds United akhir pekan lalu. Dalam pertandingan itu, Spurs sebenarnya sempat unggul lewat gol Mathys Tel sebelum Leeds menyamakan kedudukan melalui penalti Dominic Calvert-Lewin.

Hasil tersebut membuat ancaman degradasi benar-benar nyata bagi klub asal London Utara itu.



Skenario Terburuk Tottenham

Skenario paling buruk bagi Tottenham cukup sederhana: mereka kalah dalam dua laga terakhir sementara West Ham mampu meraih hasil lebih baik.

Spurs masih harus menghadapi Chelsea di Stamford Bridge sebelum menutup musim melawan Everton. Kedua laga tersebut diprediksi tidak akan mudah, terutama karena Chelsea masih bersaing memperebutkan tiket Eropa.

Jika Tottenham kalah dari Chelsea dan West Ham berhasil menang atas Newcastle, maka posisi Spurs bisa turun ke zona degradasi sebelum pekan terakhir dimulai. Tekanan besar itu bisa menjadi mimpi buruk bagi skuad Roberto De Zerbi.

Pada laga terakhir, Spurs juga belum tentu aman karena Everton dikenal mampu menyulitkan tim besar, terutama dalam laga penutup musim.



Roberto De Zerbi Mulai Tertekan

Roberto De Zerbi sebenarnya datang dengan harapan besar setelah Tottenham memecat Igor Tudor pada akhir Maret lalu. Namun hingga kini performa Spurs masih belum stabil.

Meski demikian, De Zerbi tetap mencoba optimistis.

“Kami masih percaya bisa memenangkan semua laga tersisa,” ujar De Zerbi usai hasil imbang kontra Leeds.

Namun banyak pengamat menilai masalah Tottenham jauh lebih dalam dibanding sekadar pergantian pelatih.

Media Inggris bahkan menyebut Spurs mengalami “fragile self-destruction”, yakni kebiasaan menghancurkan diri sendiri melalui kesalahan-kesalahan fatal di momen penting pertandingan.



Krisis Besar di Balik Keterpurukan Spurs

Musim buruk Tottenham sebenarnya sudah mulai terlihat sejak awal kompetisi. Setelah memecat Ange Postecoglou, Spurs menunjuk Thomas Frank sebagai pelatih baru. Namun hasil buruk membuat Frank juga dipecat pada Februari 2026.

Masalah semakin besar setelah beberapa pemain senior pergi dan performa tim terus menurun. Kehilangan sosok seperti Harry Kane dan Son Heung-min disebut membuat Tottenham kehilangan identitas permainan mereka.

Selain itu, strategi transfer klub juga banyak dikritik. Spurs dinilai terlalu fokus membeli pemain muda potensial tanpa menghadirkan cukup pemain berpengalaman untuk menjaga kestabilan tim.

Legenda Tottenham, Tim Sherwood, bahkan memperingatkan bahwa jika Spurs benar-benar terdegradasi, tidak ada jaminan mereka bisa langsung kembali ke Premier League.

“Jika tidak langsung promosi, situasinya bisa menjadi sangat sulit,” kata Sherwood.


Ancaman Degradasi yang Tak Pernah Dibayangkan

Banyak pihak menganggap situasi Tottenham saat ini sebagai sesuatu yang nyaris mustahil terjadi. Spurs merupakan salah satu klub terkaya di Inggris dengan stadion modern dan nilai klub mencapai miliaran dolar.

Namun sepak bola terus membuktikan bahwa reputasi besar tidak menjamin keselamatan di lapangan.

Mantan chairman Tottenham, Daniel Levy, bahkan mengaku tidak pernah membayangkan Spurs akan berada dalam posisi seperti sekarang.

“Saya tidak pernah berpikir ini bisa terjadi dalam sejuta tahun,” ujar Levy.

Kini seluruh perhatian fans Tottenham tertuju pada dua pertandingan terakhir musim ini. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat Spurs mencatat salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Premier League.